1330138703991167651

Ternyata, Dahlan Iskan Punya Keterkaitan Erat dengan Bonek Persebaya






Nama julukan (nick name) “Green Force”, apalagi “bonek” di dunia persepakbolaan Indonesia, tentu bukan sebutan yang asing bagi kita. Green Force adalah nama julukan yang dipakai oleh klub sepakbola asal Surabaya, Persebaya. Sedangkan julukan bonek – singkatan dari bondo nekad – alias modal nekad diberikan kepada pendukung fanatik Persebaya.
Tapi apakah anda sudah tahu siapa yang “menemukan” dan atau “bertanggung jawab” atas dua nama julukan tersebut?
Anda mungkin kaget, kalau jawabannya adalah: Dahlan Iskan, bersama timnya di Jawa Pos. Ya, Dahlan Iskan, mantan Boss Jawa Pos, mantan Dirut PLN, dan sekarang Menteri BUMN itu.
Awal kisahnya, dimulai pada tahun 1980-an. Suatu waktu ketika itu, Dahlan Iskan yang adalah pimpinan di Jawa Pos berkunjung ke Inggris, dan dijadwalkan menonton pertandingan sepakbola di Stanford Bridge, kandang Chelsea, yang waktu itu bertanding melawan West Ham United. Rupanya sudah menjadi karakternya sejak dulu bahwa Dahlan Iskan tidak pernah mau menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk selalu belajar. Dia tidak mau hanya sekadar menjadi penonton. Tetapi selama menonton Dahlan memperhatikan keadaan dan situasi pertandingan saat itu. Betapa seru dan menariknya pertandingan sepakbola di Inggris. Kenapa hal yang sama tidak diterapkan di Indonesia?
Maka selama menonton Dahlan memperhatikan dan mempelajari ulah para pendukung kedua klub Inggris itu yang begitu fanatik mendukung klubnya. Atribut-atribut yang mereka pakai, selendang, topi, dan lain-lain. Sangat meriah dan enerjik. Ada juga julukan-julukan unik yang dipakai klub-klub sepakbola di sana. Dahlan pun bertekad akan menerapkannya sepulangnya ke Surabaya.
Pulang dari Inggris, Dahlan bersama timnya di Jawa Pos mulai meniru konsep yang dia saksikan di sana untuk diterapkan ke Persebaya Surabaya. Mereka menciptakan selendang, kaos, maskot, dan motto untuk Persebaya. Semuanya serba warna hijau dengan aksentasi putih. Dahlan mengaku, semua desain itu ditiru 100 persen dari Chelsea. Motto Persebaya diciptakan. Bunyinya: “Kami Haus Gol Kamu”. Sedangkan julukannya adalah “Green Force”. Julukan ini ditemukan oleh Zainal Muttaqin, yang saat itu adalah Redaktur Olah Raga Jawa Pos. Sekarang adalah Direktur Jawa Pos dan Dirut grup anak perusahaan di bawah bendera Kaltim Post.
Mulai saat itulah Dahlan Iskan mulai tertarik dengan persepakbolaan, dan ikut aktif di dunia sepakbola di Surabaya. Hal ini sempat membuat Eric Samola, yang sepertinya telah dianggap oleh Dahlan Iskan sebagai “ayah angkat”-nya, menegurnya. Untuk apa kok sibuk mengurus sepakbola?
Teguran itu sempat membuat Dahlan berpikir, untuk apa kok Eric Samola ikut-ikutan mencampuri urusannya?
Meskipun Eric Samola adalah atasannya, dan telah menjadi sahabat karibnya, mentor, sekaligus “ayah angkatnya” yang sangat dihormati, Dahlan juga mempunyai prinsip yang kuat. Dia menjelaskan bahwa ikut sertanya dia mengurus Persebaya tidak sama dengan apa yang pernah dialami oleh Eric Samola, yang membuat Dirut PT Grafiti Pers (pemilik majalah Tempo, yang membeli Jawa Pos) patah arang dengan dunia persepakbolaan Indonesia. Olehkarena itu Eric Samola tidak mau melihat Dahlan Iskan, “anak kesayangan dan yang dibanggakan itu” mengalami nasib yang sama. Eric patah arang dengan dunia sepakbola Indonesia karena ketika menjadi pengurus klub sepakbola Jayakarta dia menyaksikan sendiri praktik suap-menyuap dan pengaturan skor yang melibatkan klubnya itu.
Alasan Dahlan Iskan untuk terus berada di Persebaya di kala itu adalah karena dia tidak mau begitu saja meninggalkan Persebaya setelah sekian lama terlibat di dalamnya. Alasan lain yang lebih penting, yang menurut pemikiran Dahlan Iskan, bisa jadi yang membuat Eric Samola kemudian bisa memahaminya adalah bahwa keterlibatannya di Persebaya berbeda dengan pengalaman Eric di Jayakarta, yang sepenuhnya murni menjadi salah satu pengurus klub tersebut.
Keterkaitan Dahlan Iskan dengan Persebaya adalah hubungan yang saling menguntungkan. Hubungan tersebut lebih tepat disebutkan hubungan yang saling menguntungkan antara Jawa Pos dengan Persebaya.
Persebaya mendapat keuntungan besar dari sisi dukungan sepenuhnya Jawa Pos yang menggalang, memanajemen, dan mengadakan atribut-atribut yang sangat banyak dan lengkap untuk para pendukung Persebaya. Termasuk dengan cara memuat berbagai berita (tentu saja), informasi, even-even kegiatan khusus untuk para pendukung Persebaya, dan lain sebagainya, dimuat di koran Jawa Pos. Oplah Jawa Pos yang waktu itu sudah mencapai 150.000-an eksemplar, dan mulai menjadi koran terbesar di Jawa Timur sangat efektif dalam menggalang dukungan fanatik untuk Persebaya itu.
13301388191783074260
Salah satu kreasi tim Jawa Pos, yang seolah telah menjadi bagian dari ikon Persebaya sampai hari ini
Jawa Pos mencetak kaos, selendang, dan lain-lain khusus pendukung Persebaya, dengan ciri khasnya berwarna hijau dengan aksentasi putih, ada pula gambar wajah seorang laki-laki berciri “pejuang” dengan ikat kepala berwarna hijau sedang berteriak memberi semangat, dan sebagainya. Pada momen-momen inilah kemudian muncul julukan bonek, singkatan dari bahasa Jawa bondo nekad, atau modal nekad.
Semua atribut itu dicetak masing-masing lebih dari 300.000 buah dan semuanya dijual dengan harga sekadar balik modal saja. Karena yang menjadi tujuan Jawa Pos adalah terciptanya kefantikan yang begitu kental dari para pendukung Persebaya dan terciptanya suasana pertandingan yang jauh lebih gegap-gempita daripada biasa-biasa saja sebelumnya. Tujuan itu pun tercapai dengan efektif. Bahkan sampai “kebablasan” dengan ulah berbagai oknum pendukung Persebaya radikal yang melakukan aksi-aksi anarkisme.
Kalau Persebaya mendapat keuntungan dari Jawa Pos karena di-support sepenuhnya seperti itu, maka di sisi Jawa Pos mendapat keuntungan dari sisi bisnis korannya. Di setiap musim kompetisi antarklub sepakbola Indonesia itu oplah Jawa Pos naik drastis. Kenaikan mencapai 50.000 eksemplar setiap harinya.
Julukan “bonek” pertamakali muncul di koran Jawa Pos pada musim kompetisi antarklub sepakbola Indonesia di tahun 1989, untuk menggambarkan begitu fanatiknya para pendukung Persebaya ketika mendukung klub kesayangannya. Tanpa membawa bekal apapun, baik itu makanan dan minuman, bahkan uang sepeser pun! Hanya pakaian di badan dan bermodalkan nekad berangkat dari Surabaya ke Jakarta khusus untuk mendukung Persebaya. Mereka umumnya menggunakan kereta api yang terpaksa mengratiskan biaya trasportasinya untuk menghindari keributan dari massa pendukung Persebaya yang begitu besar. Untuk memenuhi makan dan minum, bonek memintanya di warung-warung makan yang ditemuinya sepanjang jalan. Para pemilik warung pun dengan ketakutan terpaksa memberikannya. Pada akhirnya pun dari Jawatan Ketera Api dengan pertimbangan kemanusiaan menyediakan makanan dan minuman gratis bagi para bonek itu. Ulah bonek sering membuat resah masyaraklat sekitar yang mereka lewati. Membuat pusing pengurus dan Yayasan Supporter Persebaya, yang adakalanya harus menombok kerugian yang ditimbulkan akibat ulah para bonek itu.
Bagaimana asal-mula massa bonek sering berulah yang merugikan pihak lain tidak ada yang tahu. Padahal ketika pertamakali mereka berangkat ke Jakarta di tahun 1988 untuk menyaksikan pertandingan final antara Persija vs Persebaya, jumlahnya mencapai 25.000 orang, dan tidak ada kerusuhan.
Fenomena tradisi pendukung sepakbola yang mengiringi tim kesayangannya bertandang ke kota lain pertamakali dipelopori oleh para bonek ini. Mereka meniru apa yang sudah lama dan biasa terjadi di Eropa. Mungkin hal ini juga didorong oleh Dahlan Iskan, yang ketika menonton langsung pertandingan sepakbola antara Chelsea vs West Ham United itu menyaksikan begitu banyak dan meriahnya pendukung tim tamu yang jauh-jauh berangkat dari kota asalnya khusus untuk mendukung langsung tim pujaannya. Mungkin Dahlan-lah yang mendorong juga para pendukung fanatik Persebaya melakukan hal yang sama. Cuma dia tidak menyangka mereka kemudian benar-benar menjadi sangat nekad berangkat ke Jakarta, dan kemudian kota lainnya asalkan masih di Pulau Jawa, tanpa membawa bekal apapun. Benar-benar hanya bermodalkan nekad, alias bondo nekad, atau yang sangat terkenal dengan julukan bonek itu.
13301389131146970492
(bonek-suroboyo.blogspot.com)
Sayangnya, fenomena itu kini semakin pudar, seiring dengan beberapa tahun belakangan ini prestasi Persebaya terus menurun drastis, ditambahlagi dengan berbagai masalah serius internal klub yang tak kunjung selesai.
Dampak positif lain dari dukungan Jawa Pos terhadap Persebaya ketika itu adalah ketika tanpa sengaja seorang fotografernya, Sholehudin, mengabadikan serombongan pendukung Persebaya yang sedang naik truk tentara di kawasan Jalan Ambengan, Surabaya. Ketika para pendukung itu berebutan untuk diambil gambarnya mereka semua bertumpuk di sebelah kanan truk, membuat truk kehilangan keseimbangan dan terguling ke kanan. Momen itulah yang dengan sangat jitu diabadikan Sholehudin, dan kemudian mendapat penghargaan tertinggi dunia di ajang World Press Photo Contest untuk kategori sport photo di tahun 1993.
1330138967391117321
Karya foto wartawan Jawa Pos, Sholehuddin, yang mendapat penghargaan tertinggi dunia di ajang World Press Photo Contest untuk kategori sport photo di tahun 1993.
Demikian sekelumit sejarah dari munculnya julukan terkenal dari Persebaya: “Green Force” dan “bonek”, yang ternyata berkaitan erat dengan peran Dahlan Iskan bersama timnya di Jawa Pos. ***

Komentar

Postingan Populer