Ternyata, Dahlan Iskan Punya Keterkaitan Erat dengan Bonek Persebaya
Nama julukan (nick name) “Green Force”, apalagi “bonek” di dunia persepakbolaan Indonesia, tentu bukan sebutan yang asing bagi kita. Green Force adalah nama julukan yang dipakai oleh klub sepakbola asal Surabaya, Persebaya. Sedangkan julukan bonek – singkatan dari bondo nekad – alias modal nekad diberikan kepada pendukung fanatik Persebaya.
Tapi apakah anda sudah tahu siapa yang “menemukan” dan atau “bertanggung jawab” atas dua nama julukan tersebut?
Anda mungkin kaget, kalau jawabannya adalah: Dahlan Iskan, bersama timnya di Jawa Pos. Ya, Dahlan Iskan, mantan Boss Jawa Pos, mantan Dirut PLN, dan sekarang Menteri BUMN itu.
Awal kisahnya, dimulai pada tahun 1980-an. Suatu waktu ketika itu, Dahlan Iskan yang adalah pimpinan di Jawa Pos
berkunjung ke Inggris, dan dijadwalkan menonton pertandingan sepakbola
di Stanford Bridge, kandang Chelsea, yang waktu itu bertanding melawan
West Ham United. Rupanya sudah menjadi karakternya sejak dulu bahwa
Dahlan Iskan tidak pernah mau menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk
selalu belajar. Dia tidak mau hanya sekadar menjadi penonton. Tetapi
selama menonton Dahlan memperhatikan keadaan dan situasi pertandingan
saat itu. Betapa seru dan menariknya pertandingan sepakbola di Inggris.
Kenapa hal yang sama tidak diterapkan di Indonesia?
Maka selama menonton Dahlan memperhatikan dan mempelajari ulah para pendukung kedua klub Inggris itu yang
begitu fanatik mendukung klubnya. Atribut-atribut yang mereka pakai,
selendang, topi, dan lain-lain. Sangat meriah dan enerjik. Ada juga
julukan-julukan unik yang dipakai klub-klub sepakbola di sana. Dahlan
pun bertekad akan menerapkannya sepulangnya ke Surabaya.
Pulang dari Inggris, Dahlan bersama timnya di Jawa Pos
mulai meniru konsep yang dia saksikan di sana untuk diterapkan ke
Persebaya Surabaya. Mereka menciptakan selendang, kaos, maskot, dan
motto untuk Persebaya. Semuanya serba warna hijau dengan aksentasi
putih. Dahlan mengaku, semua desain itu ditiru 100 persen dari Chelsea.
Motto Persebaya diciptakan. Bunyinya: “Kami Haus Gol Kamu”. Sedangkan
julukannya adalah “Green Force”. Julukan ini ditemukan oleh Zainal Muttaqin, yang saat itu adalah Redaktur Olah Raga Jawa Pos. Sekarang adalah Direktur Jawa Pos dan Dirut grup anak perusahaan di bawah bendera Kaltim Post.
Mulai
saat itulah Dahlan Iskan mulai tertarik dengan persepakbolaan, dan ikut
aktif di dunia sepakbola di Surabaya. Hal ini sempat membuat Eric
Samola, yang sepertinya telah dianggap oleh Dahlan Iskan sebagai “ayah
angkat”-nya, menegurnya. Untuk apa kok sibuk mengurus sepakbola?
Teguran itu sempat membuat Dahlan berpikir, untuk apa kok Eric Samola ikut-ikutan mencampuri urusannya?
Meskipun
Eric Samola adalah atasannya, dan telah menjadi sahabat karibnya,
mentor, sekaligus “ayah angkatnya” yang sangat dihormati, Dahlan juga
mempunyai prinsip yang kuat. Dia menjelaskan bahwa ikut sertanya dia
mengurus Persebaya tidak sama dengan apa yang pernah dialami oleh Eric
Samola, yang membuat Dirut PT Grafiti Pers (pemilik majalah Tempo, yang membeli Jawa Pos)
patah arang dengan dunia persepakbolaan Indonesia. Olehkarena itu Eric
Samola tidak mau melihat Dahlan Iskan, “anak kesayangan dan yang
dibanggakan itu” mengalami nasib yang sama. Eric patah arang dengan
dunia sepakbola Indonesia karena ketika menjadi pengurus klub sepakbola
Jayakarta dia menyaksikan sendiri praktik suap-menyuap dan pengaturan
skor yang melibatkan klubnya itu.
Alasan
Dahlan Iskan untuk terus berada di Persebaya di kala itu adalah karena
dia tidak mau begitu saja meninggalkan Persebaya setelah sekian lama
terlibat di dalamnya. Alasan lain yang lebih penting, yang menurut
pemikiran Dahlan Iskan, bisa jadi yang membuat Eric Samola kemudian bisa
memahaminya adalah bahwa keterlibatannya di Persebaya berbeda dengan
pengalaman Eric di Jayakarta, yang sepenuhnya murni menjadi salah satu
pengurus klub tersebut.
Keterkaitan
Dahlan Iskan dengan Persebaya adalah hubungan yang saling
menguntungkan. Hubungan tersebut lebih tepat disebutkan hubungan yang
saling menguntungkan antara Jawa Pos dengan Persebaya.
Persebaya mendapat keuntungan besar dari sisi dukungan sepenuhnya Jawa Pos yang
menggalang, memanajemen, dan mengadakan atribut-atribut yang sangat
banyak dan lengkap untuk para pendukung Persebaya. Termasuk dengan cara
memuat berbagai berita (tentu saja), informasi, even-even kegiatan
khusus untuk para pendukung Persebaya, dan lain sebagainya, dimuat di
koran Jawa Pos. Oplah Jawa Pos yang waktu itu sudah
mencapai 150.000-an eksemplar, dan mulai menjadi koran terbesar di Jawa
Timur sangat efektif dalam menggalang dukungan fanatik untuk Persebaya
itu.
Salah satu kreasi tim Jawa Pos, yang seolah telah menjadi bagian dari ikon Persebaya sampai hari ini
Jawa Pos mencetak kaos, selendang, dan lain-lain khusus
pendukung Persebaya, dengan ciri khasnya berwarna hijau dengan aksentasi
putih, ada pula gambar wajah seorang laki-laki berciri “pejuang” dengan ikat kepala berwarna hijau sedang berteriak memberi semangat, dan sebagainya. Pada momen-momen inilah kemudian muncul julukan bonek, singkatan dari bahasa Jawa bondo nekad, atau modal nekad.
Semua
atribut itu dicetak masing-masing lebih dari 300.000 buah dan semuanya
dijual dengan harga sekadar balik modal saja. Karena yang menjadi tujuan
Jawa Pos adalah terciptanya kefantikan yang begitu kental dari
para pendukung Persebaya dan terciptanya suasana pertandingan yang jauh
lebih gegap-gempita daripada biasa-biasa saja sebelumnya. Tujuan itu
pun tercapai dengan efektif. Bahkan sampai “kebablasan” dengan ulah
berbagai oknum pendukung Persebaya radikal yang melakukan aksi-aksi
anarkisme.
Kalau Persebaya mendapat keuntungan dari Jawa Pos karena di-support sepenuhnya seperti itu, maka di sisi Jawa Pos mendapat keuntungan dari sisi bisnis korannya. Di setiap musim kompetisi antarklub sepakbola Indonesia itu oplah Jawa Pos naik drastis. Kenaikan mencapai 50.000 eksemplar setiap harinya.
Julukan “bonek” pertamakali muncul di koran Jawa Pos
pada musim kompetisi antarklub sepakbola Indonesia di tahun 1989, untuk
menggambarkan begitu fanatiknya para pendukung Persebaya ketika
mendukung klub kesayangannya. Tanpa membawa bekal apapun, baik itu
makanan dan minuman, bahkan uang sepeser pun! Hanya pakaian di badan dan
bermodalkan nekad berangkat dari Surabaya ke Jakarta khusus untuk
mendukung Persebaya. Mereka umumnya menggunakan kereta api yang terpaksa
mengratiskan biaya trasportasinya untuk menghindari keributan dari
massa pendukung Persebaya yang begitu besar. Untuk memenuhi makan dan
minum, bonek memintanya di warung-warung makan yang ditemuinya
sepanjang jalan. Para pemilik warung pun dengan ketakutan terpaksa
memberikannya. Pada akhirnya pun dari Jawatan Ketera Api dengan
pertimbangan kemanusiaan menyediakan makanan dan minuman gratis bagi
para bonek itu. Ulah bonek sering membuat resah masyaraklat sekitar yang mereka lewati. Membuat pusing pengurus dan Yayasan Supporter Persebaya, yang adakalanya harus menombok kerugian yang ditimbulkan akibat ulah para bonek itu.
Bagaimana asal-mula massa bonek
sering berulah yang merugikan pihak lain tidak ada yang tahu. Padahal
ketika pertamakali mereka berangkat ke Jakarta di tahun 1988 untuk
menyaksikan pertandingan final antara Persija vs Persebaya, jumlahnya mencapai 25.000 orang, dan tidak ada kerusuhan.
Fenomena tradisi pendukung sepakbola yang mengiringi tim kesayangannya bertandang ke kota lain pertamakali dipelopori oleh para bonek
ini. Mereka meniru apa yang sudah lama dan biasa terjadi di Eropa.
Mungkin hal ini juga didorong oleh Dahlan Iskan, yang ketika menonton
langsung pertandingan sepakbola antara Chelsea vs West Ham United itu
menyaksikan begitu banyak dan meriahnya pendukung tim tamu yang
jauh-jauh berangkat dari kota asalnya khusus untuk mendukung langsung
tim pujaannya. Mungkin Dahlan-lah yang mendorong juga para pendukung
fanatik Persebaya melakukan hal yang sama. Cuma dia tidak menyangka
mereka kemudian benar-benar menjadi sangat nekad berangkat ke Jakarta,
dan kemudian kota lainnya asalkan masih di Pulau Jawa, tanpa membawa
bekal apapun. Benar-benar hanya bermodalkan nekad, alias bondo nekad, atau yang sangat terkenal dengan julukan bonek itu.
(bonek-suroboyo.blogspot.com)
Sayangnya, fenomena itu kini semakin pudar, seiring dengan beberapa
tahun belakangan ini prestasi Persebaya terus menurun drastis,
ditambahlagi dengan berbagai masalah serius internal klub yang tak
kunjung selesai.
Dampak positif lain dari dukungan Jawa Pos
terhadap Persebaya ketika itu adalah ketika tanpa sengaja seorang
fotografernya, Sholehudin, mengabadikan serombongan pendukung Persebaya
yang sedang naik truk tentara di kawasan Jalan Ambengan, Surabaya.
Ketika para pendukung itu berebutan untuk diambil gambarnya mereka semua
bertumpuk di sebelah kanan truk, membuat truk kehilangan keseimbangan
dan terguling ke kanan. Momen itulah yang dengan sangat jitu diabadikan
Sholehudin, dan kemudian mendapat penghargaan tertinggi dunia di ajang
World Press Photo Contest untuk kategori sport photo di tahun 1993.
Karya foto wartawan Jawa Pos, Sholehuddin,
yang mendapat penghargaan tertinggi dunia di ajang World Press Photo
Contest untuk kategori sport photo di tahun 1993.
Demikian sekelumit sejarah dari munculnya julukan terkenal dari Persebaya: “Green Force” dan “bonek”, yang ternyata berkaitan erat dengan peran Dahlan Iskan bersama timnya di Jawa Pos. ***

Komentar
Posting Komentar